Memelihara Cerdas Makna

Cerdas Makna?

Apakah itu?

Hanya istilah bikinan saya karena belum tahu istilah baku untuk kecerdasan semacam ini.

Begini contohnya;

Rasulullaah SAW semasa hidupnya sebisa mungkin senantiasa menyempatkan diri untuk menyuapi pengemis tua miskin dan buta di pinggir jalan keramaian. Dia setiap hari menjelek-jelekkan beliau. Setelah Rasulullaah SAW wafat, aktifitas remeh ini dilanjutkan oleh Abu Bakar Shiddiq R.A. 

“Siapakah kau ini?” tanya si nenek pengemis tua itu kepada Abu Bakar. “Saya orang yang menyuapi engkau seperti biasanya” Jawab Abu Bakar. “Tidak. Caramu menyuapiku berbeda dengan orang yang selama ini menyuapiku. Dia lebih lembut…”

Akhirnya Abu Bakar memberitahukan tentang kematian Rasulullaah. “Baiklah nek. Saya memang bukan orang yang selama ini senantiasa menyuapi engkau. Mendengarkan keluh kesah engkau, memperlakukan engkau dengan baik dan lembut.”

“Oh ya?! Kemanakah dia sekarang? Kenapa dia tidak menemuiku lagi? Tak ada di dunia ini orang yang memperlakukanku sebaik dia. Aku sangat kehilangan dia.”

“Beliau telah tiada Nek. Belum lama ini beliau telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa”

“Apa?! Yang benar saja kau ini! Jangan bergurau!” Si nenek terkejut bukan main.

“Benar Nek. Saya tidak berbohong.” lanjut Abu Bakar.

“Tapi aku belum tahu siapakah dia yang selama ini memperlakukanku dengan sangat baik itu? Aku belum pernah sekalipun menanyakannya.”

“Dia adalah Muhammad” jawab Abu Bakar.

“Apa?! Apakah aku tak salah dengar?”

“Tidak Nek. Dialah Muhammad yang selama ini engkau cerca setiap hari. Engkau teriakkan keras-keras agar orang-orang membencinya. Padahal saat itu dia ada di hadapan engkau.”

Mendengar jawaban terakhir Abu Bakar itu si nenek menyesal sejadi-jadinya. Dia menangis luar biasa. Kemudian dia menyatakan diri masuk Islam.

Nah, itu salah satu kisah nyata yang saya sebut sebagai ‘cerdas makna’. Luar biasa dahsyat bukan?

Sehari Satu Halaman

Sehari Satu Halaman
Membaca Al-Qur’an adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Di dalamnya terkandung amat banyak manfaat dan pelajaran. Sudah sering kita baca dan dengarkan tentang ini baik dari buku, situs internet maupun siaran tv nasional.

Walaupun begitu manusia susah lepas dari sifat malas. Semua ingin meraih keuntungan dari Al-Qur’an, tetapi malah menjauhinya. Jangankan mengkaji atau membaca, menyentuhnya saja amat berat. Aneh memang.

Ada tips sederhana dari saya.

Apa itu? SSH, sehari satu halaman.

Mudah bukan? Ya, mudah. Saya sudah, masih dan akan terus mempraktekkan ini sampai ajal menjelang.

“Ngomong memang gampang!” begitulah omongan orang-orang malas.
Anda haru berniat kuat dalam diri Anda untuk lebih dicintai Allaah, meraih manfaat dari bacaan Al-Qur’an.

Jangankan sehari satu halaman, kalo sudah rutin bisa lebih. Anda pasti bisa!

Akhir kata dari saya, “Bersegeralah dalam kebaikan. Untuk hal-hal buruk, tundalah dan lupakan.”

Wasalam.